Perjalanan GGD 2015 Menuju Kampung Urbinasopen, Waigeo Timur. Kab. Raja Ampat, Papua Barat 98482

Topiknugroho.com - Kami berangkat dari Yogyakarta menuju Sorong menggunakan pesawat terbang Garuda Air Lines  dimulai tanggal 23 bulan juli tahun 2015 hari kamis pas waktu magrib sampai dengan pagi hari, tanggal 24 Jul 2015 hari Jum'at berjalan dengan mulus, Namun, perjalanan menuju kampung Urbanisopen dari pelabuhan sorong mengalami kendala.  sudah berhari-hari yang lalu menunggu kapal yang akan menuju ke Pulau Waigeo Timur namun tak kunjung datang. Tepatnya pada 23 juli 2015 sampai bulan Agustus cuaca tidak menentu, angin dari selatan tidak kunjung usai sehingga beberapa nelayan jarang ada yang melaut untuk mencari ikan. Diperkirakan ombaknya setinggi 2 sampai dengan 4 meter diatas normal, cuaca yang kurang kondusif ini diakibatkan oleh musim angin selatan yang dimulai dari bulan juni, juli sampai dengan pertengahan agustus.  Ada juga tersiar kabar dari seorang warga masyarakat sorong, salah satu nelayan yang meninggal karena mencari ikan, ada juga orang yang berwisata pada bulan juli dan agustus yang juga meninggal ditengah laut. Kabar burung inilah yang membuat kami takut untuk pergi menuju ke Kampung Urbinasopen, selain itu juga tidak ada kapal menuju ke Urbinasopen alias Sopen.

Cuaca Papua memang nampaknya jauh berbeda dengan yang ada di pulau jawa, beberapa minggu terakhir ini cuaca tiba-tiba mendung dan kadang hujan. Mendung yang ada di Langit Kota Sorong berwarna hitam pekat, jangan disangka kalau mendung tebal tersebut pertanda akan turun hujan, bisa saja turun hujan namun keadaan langit berubah drastis menjadi panas.

Pulau yang dibicarakan para warga masyarakat terkenal dengan hantu laut memang tak mudah untuk dikunjungi, tidak ada kapal yang berlalu lalang seperti Dari kota Sorong menuju Raja Ampat, yang ada hanyalah sebuah long boat yang menuju ke Kab. Waesai atau ke Sorong dengan menempuh perjalanan selama 2 jam. Dengan keadaan yang belum ada sinyal dan beum ada jalur darat inilah yang membuat Urbinasopen sebagai kampung di pulau bagian timur Waigeo ini kurang banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Keindahan alamnyapun masih asri namun belum ada hal yang menarik selain pemandangan wisata Hantu Laut yang konon katanya setiap akhir tahun Desember atau pas tanggal 31 Desember setiap tahunnnya.

Sambil menunggu datangnya long boat besar yang menuju ke sorong, waktu dihabiskan untuk membuat roti sampai sore hari, namun adakalanya rasa bosan menghampiri kami. Untuk menghilangkan kebosanan tersebut, cara yang paling ampuh adalah mengunjungi tempat yang dirasa bagus dan nikmat untuk dikunjungi. Salah satu tempat bagus untuk dikunjungi ketika di Sorong adalah di Waduk KLasemen. Sebuah waduk yang ada di Sorong dengan tempat yang teduh dan Indah, sangat  cocok untuk dikunjungi bagi wisatawan yang ingin bersantai dengan pacar, keluarganya karena selain dari waduk tersebut tersedia resto untuk menyantap ikan air tawarnya. Inilah Waduk KLasemen Sorong...

Waduk Klasemen Sorong

Setelah sebulan menetap di sorong, sebagai salah satu orang yang merasa tidak mampu lagi untuk menunggu, akhirnya ada longboat menuju ke Urbanisopen melalui Ibu Kota Kabupaten yang berada di Waisai. Dari situlah nelayan dapat menuju kota Waisai untuk menjual beberapa hasil kebunnya, tepat di daerah pelabuhan dekat dengan pasar Waisai. Kami berdua saya dengan istri tercinta dihubungi oleh kepala Sekolah SMA Persiapan Urbinasopen untuk bersegera mengemasi barang-barang untuk menuju ke Pelabuhan Rakyat yang berada dikota Sorong. Kami berdua Tinggal di SP 2 dari kota Sorong ke Jalur Aimas sampai Ke Tugu merah dan SP. Jalur menuju ke pelabuhan Rakyat berada di Sebelah Kiri dari Pasar Sentral Sorong Untuk  masuk ke pelabuhan harus wajib membawa karcis yang dapat dibeli dipintu penjagaannya. Jadwal Keberangkatan dari Sorong Menuju Kab. Waisai Setiap pukul 2 Siang. Kami berdua harus sewa mobil angkutan desa dengan bahasa mereka adalah taxi dari SP2 menuju pelabuhan rakyat dengan ongkos Rp.150 ribu rupiah untuk tiket kapalnya seharga 130 ribu rupiah untuk seorangnya.

Port Of Waisai

Istri yang merupakan salah satu guru garis depan angkatan pertama atau GGD 2015 Pertama yang ditempatkan di Kampung Distrik Urbinasopen memang harus bersusah payah menuju tempat dinas. Dengan keadaan dan cuaca yang tidak mendukung itulah, kami tidak dapat sampai ketempat tujuan tepat waktu. Disitulah kami merasa sedih dan tidak bisa bilang apa-apa. Sarana dan prasarana yang kurang memadai untuk menuju ke kampung Urbinasopen inilah yang menjadi pertanyaan bagi saya. Dengan adanya UN menggunakan CBT atau Computer Based Test apa mungkin bisa dilakukan ditempat yang terpencil seperti ini. Sinyal jaringan telekomunikasi seperti telkomsel tidak ada, Listrik dengan deasel rusak sehingga selama berbulan-bulan keadaanya memperihatinkan. Apakah pemerintah sudah memperhatikan tempat semacam ini, kalau sudah dimana uang untuk pembangunannya, apakah dimakan sama orang atas di Kota, apakah tidak diberikan di Kampung distrik yang notabene memiliki 3 lembaga pendidikan dari SD sampai dengan SMA.

Saya dengan Istri sebagai salah satu Guru Garis Depan angkatan pertama harus benar-benar mempersiapkan peralatan seperti kompor, minyak, ember, beras dan beberapa perlengkapan lainnya termasuk solar cell yang dibawa dari Jogja. Seharusnya pemerintah harus lebih tanggap turun ke daerah ketimbang dikasih ke daerah dan bantuan dari segi infrastruktur tidak sampai ke bawah.  SMA yang berdiri sejak 4 tahun silam ini harus benar -benar siap untuk menghadapi pendidikan yang sedemikian rupa, SMA Persiapan Urbinasopen terbantukandengan Guru SM3T dari tahun 2011 namun, konon katanya dari beberapa proposal yang dsebar oleh anak SM3T tidak ada yang turun ke Kampung, apakah proposal tersebut memang tidak dinilai harganya untuk membangun desa. Dan apakah pembangunan desa sudah ada danannya namun tidak sampai di kampung. Pertanyaan bagi kita, pemberantasan korupsi memang harus dilakukan sampai di daerah tertinggal sekalipun.

Kebutuhan guru di daerah kurang terpenuhi, mulai dari perumahan guru yang tidak ada sampai dengan hal-hal transportasi laut dengan menggunakan perahu yang terbuat dari papan yang kurang aman untuk digunakan meskipun sudah lewat pinggiran laut yang jaraknya 30 meter dari bibir pantai tanpa menggunakan pelampung. Tidak bisa dibayangkan kalau pas waktu keberangkatan kami di tanggal 23 Agustus 2015 yang lalu dari tempat yang notabene sebagai tempat persinggahan perahu kecil kurang aman, bayangkan jika hari itu hujan di laut mungkin perahu tanpa ada atapnya ini langsung ke guyur hujan. Apalagi tanpa menggunakan pelampung dan alat pengamanan. Sungguh guru di daerah tertinggal adalah guru terhormat dan wajib kita hormati untuk membangun bangsa dan negara dan hal itu harus kita perjuangkan. Harus ada rekonstruksi di daerah tertinggal dengan membangun jaringan telkom ataupun lainnya karena mereka kebanyakan juga sudah mengenal handphone untuk berkomunikasi  yang digunakan ketika mereka  di kota dengan komunikasi saudara yang berada di sorong ataupun luar sorong.

GGD Urbinasopen

Dari Waisai menuju Urbinasopen ditempuh dengan perjalanan selama 3 jam, waktu yang cukup lama untuk ukuran saya sebagai salah satu suami yang menemani istrinya ke pulau tertinggal karena memang belum ada listrik yang masuk dan sinyalpun tidak ada, yang rencannya kami dari jogja mau buat antena sekaligus membeli repeater seumpama bisa menangkap sinyal, jika belum dapat menangkap sinyal, nanti bisa menggunakan BTS buatan dari Jogjabolic.com seharga 6 jutaan.

Jogjabolic.com

Meskipun belum ada dananya untuk membeli BTS UP to 60 KM, kami yakin akan ada jalan untuk membelinya, karena dengan adanya sinyal maka akan ada sedikit perubahan untuk kampung tersebut, Saya sebagai salah satu internet marketing dari jogja ingin sedikit mencoba memberdayakan mereka untuk lebih maju, Guru SM3T angkatan kedua pernah membuat website Desa.ID yang beralamat di  http://kampungurbinasopen.desa.id/ namun setelah mereka membuatnya, pengelolaannya tidak lancar. Saya sebagai salah satu Suami dari Guru Garis Depan yang akan bertempat di Kota Waisai harus dapat mengelolanya dengan menggali dan memberdayakan anak-anak untuk dapat menuliskan apa yang ada disana dan sekaligus untuk upload artikel jika memang blom ada jaringan GSM yang dapat masuk.

Website Kampung Urbinasopen

Raja Ampat sebagai salah satu tempat wisata pantai yang terkenal bukan hanya ditempat wisata saja yang maju akan tetapi beberapa daerah pinggiran pantai seperti distrik harus dapat maju kedepan bukannya mundur kebelakang. Kampung Distrik Urbinasopen adalah salah satu kampung yang masyarakatnya mayoritas beragama Kristen, dengan masyarakat asli dari suku Biak. Di daerah tersebut berdiri gereja terbesar di Raja Ampat. Tempat Ibadah inilah yang dijadikan simbol mereka mengetahui agama, baca dan tulis. Ibadah mereka dilakukan setiap pagi dan petang layaknya orang-orang muslim. Namun, muslimnya disini minoritas hanya ada satu atau dua orang saja.

Gereja Kristen Urbinasopen

 

field_categories: